YOGYA (KR) - Perhiasan motif Dubai yang banyak dibeli mereka yang berumroh atau berhaji ke Arab, ternyata sebagian di antaranya merupakan buatan Indonesia. Sehingga sangat mungkin, membeli perhiasan di Mekah/Madinah ternyata membeli produk Indonesia juga.
Kurniawan ST dari Matahari Terbit Jewellery Manufacturer Bandung mengemukakan hal tersebut kepada wartawan di Kampus UII baru-baru ini. Meski diakui produk Indonesia tidak banyak karena negeri ini hanya menyumbang 0,01% perdagangan perhiasan emas di Dubai.
Perdagangan emas di Dubai setiap tahun perlu 300 ribu ton emas. Kebutuhan perhiasan yang tinggi ini kurang bisa dipenuhi Indonesia, karena selalu dikelola secara tradisional dan belum tersentuh teknologi. "Selama ini kami membawa contoh motif dari Dubai kemudian dibawa ke sini untuk dikembangkan. Padahal sebenarnya kita punya ribuan motif yang potensial dijual," tandas Kurniawan.
Sehingga mulai dipikirkan, mengapa kita tidak mengembangkan motif-motif spesifik Indonesia yang ribuan ragamnya. Dengan demikian nanti bila orang melihat perhiasan dengan motif tersebut sudah akan tahu, bila itu merupakan motif Indonesia.
Dikatakan, kecenderungan pasar perhiasan sekarang agak lemah karena terpengaruh nilai emas yang terus meningkat. Padahal, pasar perhiasan lokal mencapai 75% produksi. Bahkan kondisi sekarang bisa disebut dalam suasana krisis besar, ketika dalam waktu tiga hari harga emas sudah naik dari Rp 263 ribu/gram menjadi Rp 273 ribu/gram. Diakui, bila produksi sekarang ada kekurangan, antara lain karena tidak dapat menyuplai model-model yang cukup untuk pasar.
"Konsumen perhiasan mulai makin rewel. Namun dengan kapasitas yang hanya 20 model, ini tidak cukup. Jika selalu konvensional, tidak akan terkejar," katanya.
Kini dengan mesin terbaru 20 model/8 jam, maka produksi bisa naik 5 kali lipat. Karena itu Matahari Terbit menganggap, investasi yang besar tanpa dukungan SDM yang bagus akan mustahil.(Fsy)-s
(sumber: kr.co.id) |